Harga Pangan Stabil, Petani Kuat Pula

Posted on 11 12:30:48 Desember 2014 | by : Administrator | 1891 kali dibaca | Category: Berita Utama


Setiap panen padi, petani kerap dihadapkan pada posisi tak menguntungkan. Posisi tawar menawar rendah sehingga petani terpaksa menjual hasil gabah pada tengkulak dengan harga rendah pula.Sebaliknya, saat masa paceklik (tidak musim panen),akses petani untuk mendapatkan pangan sulit.Akirnya petani juga yang teranianya.

Meski secara bertahap kondisi tersebut mulai berkurang tapi ke depan harus mendapat perhatian Pemerintah. Sebab, hal ini akan berpengaruh kepada kestabilan harga di wilayah itu dan berdampak pula kepada laju inflansi, kata Gubernur Irwan Prayitno kepada Singgalang baru-baru ini di Padang.

Irwan menyebut kenyataan yang dialami petani itu mulai berkurang karna pemerintah memfasilitasi dan mendorong perani untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi membangun kebersamaan melalui pembentukan kelompok tani (keltan)atau gabungan kelompok tani (gapoktan).

Dengan adanya kesamaan kepentingan dan masalah yang dihadapi,petani akan menpunyai kekuatan sama untuk meningkatkan posisi tawar khususnya dalam mendistribusikan hasil panennya sehingga memberikan keuntungan bagi Gapoktan dan anggotanya.

Untuk memperkuat kelembagaan petani tersebut,pemerintah memberikan bantuan Stimulan yang di gunakan sebagai modal kegiatan pembelian dan penjualan gabah/beras serta untuk pembangunan sarana penyimpanan. Gapoktan didorong agar mampu memiliki sarana penyimpanan (Gudang) yang dapat digunakan untuk menyimpan cadangan pangan bagi anggota saat paceklik. Dengan demikian petani dapat terpenuhi kebutuhannya jika mereka memerlukan pangan,jelas Gubernur .

Saat peresmian gudang cadangan pangan gapoktan di janjang saribu,Nagari Sulit Air,Kab.Solok baru-baru ini, gubernur menegaskan kehadiran gudang cadangan pangan sekaligus menjadi solusi terhadap hal-hal yang merugikan petani selama ini. Jika setiap basis penghasil cadangan pangan ada gudang penyimpanan,kita optimis petani makin semangat bercocok tanam karna harga menguntungkan mereka,Dampak luasnya,gejolak harga tidak akan terjadi, sebutnya.

Gubernur menginginkan kondisi yang masih terjadi hinga kini,jika panen raya harga jual rendah sehingga petani rugi. Sebaliknya jika paceklik, harga melangit dan petani sulit mengaksesnya, harus diakhiri. Sebab kalau di biarkan berlanjut akan semakin memperlambat ketahanan Pangan rumah tangga di tingkat petani yang skala lebih besar dapat mempengaruhi ketahanan Pangan daerah maupun Nasional.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumbar, Ir.H.Efendi MP menambahkan, kehadiran gapoktan itu juga diharapkan agar mampu membeli beras terutama dari hasil produksi petani anggotanya dengan harga serendah-rendahnya sesuai HPP. Untuk memperkuat gapoktan itulah, pemerintah memberikan stimulan melalui program penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (P-LDPM) agar gapoktan tersebut tidak saja sekedar membantu petani, tetapi sesungguhnya juga menjaga kestabilan harga pangan.

Stimulan yang diberikan digunakan untuk membangun gudang sebagai tempat penyimpanan cadangan pangan.Kemudian untuk membeli gabah petani yang bergabung dalam gapoktan sekaligus juga memberikan pinjaman kepada petani.Bila panen raya yang selama ini dihargai tengkulak dengan harga rendah, Gapoktan membelinya dengan harga normal sesuai HPP. Lalu di simpan dalam gudang penyimpanan. Saat harga naik,barulah di jual.

Jadi selain sosial membantu anggotanya juga dididik untuk berbisnis, agar Gapoktan itu berkembang, terang Kepala Badan Ketahanan Pangan Ir.H. Efendi MP. Di damping Kabid Distribusi dan harga pangan Ir.Yuwarsyah Abidin, MP. Tahun ini bantuan strimulan penguatan kelembagaan di berikan untuk empat gapoktan antara lain Jonjang saribu juga Santiago(Nagari Sarik hiliran Gumanti, Kab, Solok) Banu Organik (Nagari Ladang Laweh,Banuhampu,kab,Agam) dan kebaya maju bersama (Nagari Koto Baru,Bayang Kab, Pesisir Selatan ) Bantuan stimulant sudah digencarkan sejak tahun 2009 kepada 74 Gapoktan. Berdasarkan evaluasi,perkembangan memuaskan.petani tidak ada memasalahkan paceklik maupun jual harga gabah rendah.

Sumber : Harian Singgalang 2 Desember 2014