Solusi Domestik Kenaikan Harga Daging

Posted on 16 00:00:00 Juni 2016 | by : Administrator | 2677 kali dibaca | Category: Artikel


Oleh : Profesor Helmi - Guru Besar Pembangunan Pertanian/Agribisnis, Unand 

Beberapa waktu terakhir ini pasar pangan daging sapi kita kembali mengalami goncangan. Ada “kekurangan” suplai daging sapi di negeri yang “berkelebihan” sumberdaya pendukung untuk memproduksi ternak sapi.  Ada “keributan” kenaikan harga, yang terjadi berulang hampir setiap tahun. 

Lalu apa solusinya? Ada perdebatan “panas”, terkadang cenderung mencari kambing hitam. Tetapi ujung-ujungnya mengarah kepada “pembenaran” melakukan impor. Sepertinya hanya itulahlah solusinya. 

Lupa, bahwa ada sumberdaya domestik yang “berkelebihan” untuk peternakan sapi, menunggu jawaban mau diapakan? Sebutlah di antaranya, kemampuan inovasi anak bangsa  menghasilkan jenis sapi lokal unggul yang bisa mencapai berat sekitar 800 kg. Ada inovasi pakan dan peningkatan berat badan. Ada banyak sekolah menengah kejuruan (SMK) peternakan/pertanian dan politeknik pertanian yang tersebar di negeri ini.

Lihatlah data luas perkebunan sawit rakyat, luas perkebunan sawit yang dikelola BUMN, serta swasta. Apa kurangnya untuk melaksanakan integrasi peternakan sapi dengan perkebunan sawit?

Sangat layak untuk mempertanyakan, apakah tidak bisa dikembangkan solusi domestik yang berskala ekonomi? Dari pada hanya berkutat dengan urusan impor. Apakah sedemikian tidak berdayanya pemegang otoritas negeri ini untuk mengoptimalkan solusi domestik tersebut?  

Ada keperluan untuk evaluasi menyeluruh untuk masalah ini dengan orientasi penguatan kemampuan penyediaan/suplai pangan domestik sesuai amant UU Pangan. Hal yang sering diabaikan dengan dalih perlunya penyelesaian jangka pendek. Kalau kecenderungannya seperti itu terus, kapan bangsa dan negeri ini bisa bergerak lebih maju?

Setidaknya ada beberapa langkah yang perlu diambil terkait solusi domestik ini. Pertama, segera laksanakan integrasi peternakan sapi dan perkebunan sawit yang dikelola BUMN secara besar-besaran. Selanjutnya perluas penerapannya pada perkebunan sawit rakyat.

Kedua, optimalkan pemanfaatan inovasi dan teknologi yang dihasilkan anak bangsa. Di antara inovasi tersebut adalah sapi unggul Pasundan, sapi Sumba unggul, sapi Bali unggul, sapi pollet tidak bertanduk, dan embryo trasfer. Dan, ada banyak lagi inovasi yang lain.

Ketiga, untuk dukungan SDM, bangun keterkaitan (linkage) pendidikan SMK peternakan/pertanian dan politeknik pertanian dengan inisiatif solusi domestik peningkatan suplai dan pengendalian harga ini.

Keempat, bangun rumah potong hewan (RPH) di kawasan sentra integrasi sapi dan perkebunan dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan dan distribusi daging. Yang memungkinkan kawasan RPH ini memasok daging ke pasar yang memerlukan pasokan.

Kelima, buat aturan, kelembagaan, dan tempatkan tenaga profesional untuk mendukung dan mengelola kegiatan yang diperlukan. Keenam, perkuat dan kembangkan skala ekonomi usaha atau sentra peternakan sapi rakyat (yang bukan integrasi sapi dan perkebunan). Lengkapi juga dengan RPH dan fasilitas penyimpanan dan distribusi daging untuk memasok kawasan sekitar.

Ketujuh, perkuat dan biayai secara memadai kegiatan riset menghasilkan inovasi dan teknologi untuk mendukung solusi domestik tersebut secara berkelanjutan.

Solusi domestik ini memerlukan waktu untuk memperlihatkan dampak, tetapi akan memberi fondasi untuk penyelesain jangka panjang. Kalau langkah-langkah tersebut tidak bisa dijalankan ada kemungkinan memang faktor internal yang tidak menghendaki solusi tersebut terjadi. (*)

sumber: padang ekspres