Sekilas Info

Imbas Penguatan Dolar terhadap Rupiah

Telur dan daging ayam menjadi dua komoditas yang terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kementerian pertanian segera melakukan langkah dengan memanggil seluruh produsen telur dan ayam nasional, kemarin (11/5). 

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi mengungkapkan, kenaikan telah terasa di pasaran dalam 3 hari terakhir. “Semua komoditas menjelang puasa dan Lebaran aman, kecuali telur dan daging ayam yang naik karena dolar menguat,” katanya di Jakarta, kemarin (11/5). 

Dalam catatan Kementan, pada periode awal bulan Mei, harga daging ayam diperkirakan akan naik dari rata-rata Rp 32 ribu per kilogram menjadi Rp 34,127 per kilogram atau naik sebanyak 0,03 persen. Sementara telur ayam pada minggu-minggu pertama bulan Mei naik 1,46 persen menjadi Rp 23.389 per kilogram. 

Meski demikian, Agung mengatakan bahwa kenaikan daging dan telur ayam ini lebih dipengaruhi faktor eksternal. Harga telur dan daging naik karena harga pakan naik. “Nggak semua pakannya, harga konsentrat yang naik, mempengaruhi harga pakan,” katanya. 

Agung menyebut, harga pakan naik bervariasi antara Rp 100 hingga Rp 150. Kenaikan harga pakan ini mempengaruhi naiknya harga anak ayam DOC (Day Old Chicken) yang naik sekitar Rp 500. Kenaikan harga DOC ini akhirnya menyumbang pada kenaikan harga daging ayam dari rata-rata Rp 32 ribu menjadi Rp 36 ribu. 

Kementan telah mengambil langkah dengan memanggil seluruh produsen telur dan ayam nasional untuk berembuk. Agung berharap, hasil akhir dari harga dua komoditas ini bisa tetap stabil dan terkendali. “Nanti kalau sudah ada hasil, segera kami umumkan,” jelas Agung. 

Sementara untuk komoditas lain, Agung optimistis tidak ada masalah. Beberapa komoditas yang belum mampu dipenuhi kebutuhannya oleh produksi dalam negeri, seperti bawang putih dan daging telah diimbangi dengan kebijakan impor. “Daging sapi sudah kami keluarkan izin impornya, sampai akhir tahun total 42 ribu ton,” pungkasnya. 

Pertamina Ikut Terdampak

Penguatan dolar Amerika juga berdampak kepada para perusahaan berbasis impor, salah sautnya PT Pertamina (Persero). Apalagi BUMN perminyakan ini cukup besar melakukan impor minyak mentah. Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengakui, Pertamina ikut merasakan imbas dari pelemahan rupiah. Namun, pihaknya sudah melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi hal tersebut.

Dengan cara ini, perusahaan mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap pada nilai awal saat transaksi dilakukan dan tidak terpengaruh dengan naik turunnya kurs rupiah terhadap dolar AS. “Kita lakukan hedging, untuk menjaga itu, kita ada kebijakan untuk hedging,” tuturnya di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/5).

Nicke mengatakan, Pertamina setiap tahunnya memang menyiapkan alokasi untuk melakukan hedging. Hal itu dilakukan selain untuk menjaga volatilitas kurs juga antisipas transaksi impor migas. “(Alokasi hedging) angkanya saya belum ada yang pasti, karena harus dihitung,” katanya.

Sekedar informasi sepanjang 2017, Pertamina berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$ 42,86 miliar atau naik 17% dari 2016. Namun perolehan laba bersih perseroan turun dari US$ 3,15 miliar di 2016 menjadi US$ 2,4 miliar di 2017 atau Rp 36,4 triliun (kurs Rp 13.500). Penurunan sebesar 23% itu tersebut lantaran belum adanya penyesuaian harga untuk BBM bersubsidi seperti Premium dan Solar.

Tahun ini, Pertamina menganggarkan belanja belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 5,59 miliar. Dari angka itu 59% dialokasikan untuk hulu, 15% untuk pemasaran, 15% untuk mega proyek, 5% untuk gas, 3% untuk pengolahan dan 3% riset dan pendukung lainnya.

Dolar Turun

Di sisi lain, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah meninggalkan level Rp 14.000. Dolar lengser dan parkir di Rp 13.949 pada kemarin sore. Mengutip data Reuters, kemarin sore (11/5), dolar berada di level Rp 13.949. Sementara level tertinggi berada di Rp 14.077 pagi tadi. Sementara pada kurs JISDOR BI, dolar berada di level 14.048. Bila ditarik sejak awal tahun 1 Januari 2018, dolar AS memang tengah berada pada tren penguatan. Posisi tertingginya tercatat pada hari Senin ini masih di Rp 13.970. 

Pada Januari, nilai dolar AS sebenarnya terus menurun hingga menyentuh level terendah tahun ini di Rp 13.289 yang tercatat pada 21 Januari 2018. Pelemahan rupiah juga sejalan dengan Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) yang masih belum kembali ke angka 6.000. (*) 

 

Sumber: Padang Ekspres

.