Sekilas Info

Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)

shadow

Sejak 5 tahun terakhir, konsumsi beras masyarakat Sumbar terus berkurang. Meski saat ini masih melebihi batas normal bahkan masuk 5 besar nasional, tapi penurunan konsumsi beras itu memperlihatkan pemerintah Provinsi Sumbar serius menggalakkan diversifikasi pangan untuk menurunkan konsumsi beras.

Karena itu pula Gubernur mengajak semua pihak untuk mengurangi konsumsi beras dan beralih ke pangan non beras melalui gerakan diversifikasi pangan. Apalagi di daerah ini, potensi pangan non beras cukup banyak. tetapi belum dimaksimalkan.

"Potensi ini harus kita manfaatkan sehingga konsumsi beras berkurang dan bahan pangan lain meningkat. Gerakan diversifikasi pangan mesti dioptimalkan. Ini adalah pilihan terbaik" ujar Gubernur Irwan Prayitno belum lama di Padang.

Menurut Gubernur, ajakan itu terus disampaikan bersama Bupati / Walikota kepada masyarakat setiap kali berkunjung ke daerah. Ajakan ini tidak semuanya diikuti, tetapi ada yang dibalas dengan nada sindiran. Namun Gubernur tidak marah dan memakluminya. Bisa jadi ada yang kurang paham. "Maka kita bersama Walikota / Bupati terus mensosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai wadah untuk untuk menggencarkan diversifikasi", katanya.

Gubernur mengatakan tidak mudah memang mengubah kebiasaan masyarakat mengkonsumsi beras dengan komoditi lain, namun mengurangi volumenya masih bisa dilakukan, Langkah pengurangan volume ini ditempuh lalu diikuti dengan mengkonsumsi bahan pangan lain seperti ubi-ubian.

Salah satu gerakan diversifikasi pangan yang ditempuh adalah pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). KRPL ini dibangun dalam satu kawasan dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan. Digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan peningkatan pendapatan yang pada akhirnya kesejahteraan masyarakat meningkat.

Untuk lebih membumikan pengembangan KRPL tersebut, Gubernur terjun ke kabupaten / kota untuk me-lounching-nya, sekaligus memberikan motivasi dan dorongan kepada pengelola KRPL dan masyarakat sekitar untuk memasyarakatkan diversifikasi pangan sekaligus memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan.

Sementara itu Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Ir. Efendi, MP menjelaskan KRPL digencarkan sejak tahun 2011 dan sebelumnya dengan program pengurangan konsumsi beras melaui gerakan diversifikasi pangan, juga digencarkan melalui gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP).

Apalagi program ini sasarannya untuk meningkatkan kesadaran, peran dan keikutsertaan masyarakat dalam mewujudkan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman serta mengurangi ketergantungan terhadap pangan tertentu.

Kemudian meningkatkan partisipasi kelompok wanita dalam penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan sebagai penghasil sumber karbohidrat, vitamin, mineral, dan protein untuk konsumsi keluarga serta meningkatnya konsumsi pangan lokal keluarga sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi keluarga menuju Pola Pangan Harapan (PPH).

"Di Sumbar, program ini serius disikapi, mengingat manfaatnya banyak pula, termasuk dari sisi kesehatan. Semua pihak dilibatkan untuk mengkampanyekannya. Alhamdulillah tingkat konsumsi beras terus berkurang," jelasnya

Berdasarkan data, tingkat konsumsi beras masyarakat Sumbar kondisi 2013 mencapai 288,1 gram/kap/hari atau setara dengan 105,2 kg/kap/tahun. Sedangkan angka idealnya adalah 275 gr/kap/hari atau setara 100,375 kg/kap/tahun.

Dalam perkembangan 3 tahun terakhir terjadi penurunan. Pada tahun 2011 tingkat konsumsi mencapai 320,4 gr/kap/hari, tahun 2012 menjadi 307,5 gr/kap/hari.

"Dengan kata lain, gerakan diversifikasi pangan yang digencarkan Gubernur membuahkan hasil. Namun tentu tak cukup sampai disini. Diversifikasi harus dan terus digencarkan dan dioptimalkan", jelas dia.

Begitu pula skor Pola Pangan Harapan (PPH) Pada 2009 hanya 75,9, hingga 2013 telah mencapai 84,4. Angka ini juga sudah di atas rata-rata nasional. Ke depan, diharapkan lebih ditimgkatkan lagi skornya menjadi 90., melalui berbagai terobosan agar diversifikasi pangan terwujud di dareah ini.

Untuk mengimplementasikan gerakan diversifikasi pangan ini, kelompok tani diberikan stimulus. Keltan yang mendapatkan setelah diverifikasi kelayakannya dengan tujuan agar stimulus berkembang.

Stimulus yang diberikan sejak 2010 hingga kini sudah mencapai ratusan kelompok yang tersebar di 19 kab/kota. Antara lain tahun 2010 sebanyak 100 kelompok, tahun 2011 90 kelompok, tahun 2012 62 kelompok (APBN 50 kelompok dan APBD Provinsi 12 kelompok).

Pada 2013 dialokasikan untuk 155 kelompok dari APBN dan 77 kelompok dari APBD. Tahun 2014 dialokasikan lagi untuk 76 kelompok dari APBD dan 50 kelompok dari APBN.

Perkembangan di lapangan memuaskan. Misalnya di kelompok yang menerima stimulus 2013, Kelompok Wanita Tani Gema Tani, Jorong Tanjung Beruang Nagari Kajai Kecamatan Talamau Kabupaten Pasaman Barat. Di kawasan yang dijadikan lokasi KRPL, hasil pemantauan lapangan, hasil sayuran yang ditanam tumbuh subur seperti kol, lobak, cabe dan lainnya. Anggota kelompok ini tidak lagi membeli sayuran di pasar, cukup diambil di lokasi KRPL mereka.

Seorang anggota KWT Gema Tani mengatakan, biaya hidup berkurang sekaligus juga memasyarakatkan makan sayur. Dia mengaku senang dan sehat pula.

.